dalam Cerita, Ngeblog

Pelanggaran lalu lintas seperti sudah sangat sering kita lihat di kehidupan sehari – hari. Mulai dari berangkat kerja sampai pulang kerja ada saja yang melakukan pelanggaran terhadap lalu lintas. Padahal jelas – jelas terkadang terdapat petugas yang berwenang dilokasi tapi tetap saja melakukan pelanggaran dan herannya tidak ada tindakan dari pihak berwenang.

Nah diatas sekedar intermezzo saja sih sebenarnya. ­čśÇ Selama saya memiliki SIM atau Surat Ijin Mengemudi khususnya SIM C, saya sudah 2 kali terkena tilang. Wah padahal sebelum – sebelumnya lancar – lancar saja. Bahkan bisa dibilang hampir nggak pernah melanggar rambu atau marka jalan ketika saya berkendara. Ya alasannya cuman satu : takut ditilang dan disuruh bayar ­čÖü

Kejadian ini ketika saya sudah mulai pindah untuk kuliah di Surabaya. Kejadian pertama ketika saya berada di┬átraffic┬álight. Ketika itu lampu masih hijau dan kebetulan saya menaiki sepeda motor dengan beriringan bersama orang didepan saya entah kenapa ketika ada sepeda berbelok ke kanan untuk menyebrang tiba – tiba orang di depan saya berhenti mendadak dan untuk menghindari terjadinya tabrakan saya putuskan banting setir ke kiri dimana sama sekali tidak ada aspal bahkan hanya ada bebatuan tapi nahasnya ketika saya berhenti tersebut saya melewati garis putih di┬átraffic light┬ádan lampu berwarna merah┬áseketika itu juga polisi didepan saya mengira jika saya melakukan pelanggaran.

Waduh padahal sudah saya jelaskan, akhirnya saya diminta untuk menepi dan ditanyai kelengkapan surat kendaraan bermotor saya. Setelah beberapa saat saya kemudian ditanyai mau dibayar disini atau di pengadilan. Nah karena saya kurang tau dengan teknis pembayaran tilangan saya putuskan untuk membayar ditempat dan juga waktu itu saya ada urusan mendadak yang harus segera ditangani. Ternyata denda yang diberikan sebesar Rp 150.000 ­čÖü Tanpa pikir panjang dan kebetulan membawa uang sejumlah tersebut akhirnya saya putuskan untuk membayar ditempat. Padahal katanya, dari beberapa sumber yang saya baca jika terkena tilang dan pembayaran dilakukan dipengadilan akan dikenai denda yang tidak begitu mahal selain itu menghindari hal – hal yang tidak┬ádiinginkan. Maklumlah mahasiswa ­čśÇ

Pada kejadian pertama ini saya lupa saya kena pasal berapa karena seingat saya tidak disebutkan pasalnya hanya diberitahukan dendanya sekian dengan denda maksimal sekian dan pelanggaran yang dilakukan. Sempat saya tanyakan nama dari petugas berwenang terkait ya itung – itung pengen sedikit kenalan ­čśÇ

Setelah beberapa waktu lamanya akhirnya saya kena tilang kembali. Tepatnya tanggal 13 April 2015. Kejadian ini berada di depan Royal Plaza Surabaya. Waktu itu saya dari arah ketintang dan ingin ke sidoarjo ┬ádengan memutar balik sebelum fly over yang ada di depan Royal Plaza. Berhubung jalanan yang lumayan sepi saya nyalakan lampu sein untuk merapat kekanan. Kebetulan di depan saya ada seorang ibu kalau nggak mbak – mbak juga dari arah yang sama. Karena mbaknya nggak nyalain lampu sein saya agak bingung karena menutup akses jalan saya.

Setelah berhasil merapat kekanan saya matikan tuh sein motor saya. Waktu mau puter balik dan nyalain sein eh tau tau udah disuruh minggir saja sama petugas yang berwenang bebarengan dengan mbak – mbak yang tadi. Dalam kasus ini saya terkena tilang karena tidak menyalakan lampu sein dan puter balik ? Iya yang pertama tidak menyalakan lampu sein, padahal posisi mau menyalakan udah kena tilang duluan ­čÖü dan yang kedua tersebut karena saya puter balik dari ketintang. Waduh, perasaan nggak ada rambu – rambu dilarang puter balik dari ketintang dan arah sidoarjo ke surabaya lumayan sepi walaupun ada markah jalan disana akan tetapi sama sekali tidak saya langgar.

Akhirnya saya disarankan untuk menepi oleh┬ápetugas berwenang bersama mbak – mbak yang ada didepan saya. Ketika saya di suruh turun dan naik ke pos polisi nah mbak – mbaknya udah di suruh pulang aja duluan padahal belum ada 5 menitan ­čśĽ┬á. Spontan hal itu saya tanyakan kepada pihak berwenang “Nah pak, mbak – mbaknya yang tadi kok nggak kena tilang ?” tanya saya. “Iya mbaknya tadi nggak melanggar, tapi ikutan berhenti karena saya disuruh berhenti” tegasnya. “Lah arahnya sama dari saya dan dari awal nggak nyalain sein kok cepet banget nggak sampai 5 menit” tanya saya kembali. “Nggak kok tadi dia nggak melanggar” tuturnya.

Spontan saya kaget perasaan yang diberhentikan duluan mbaknya yang didepan, kok malah nggak kena tilang padahal sebelum merapat ke kanan dia malah menginjak marka jalan. Mungkin karena cewek selalu benar kali ya seperti di meme komik itu heheh ­čśÇ . Kemudian bapaknya menjelaskan tentang pelanggaran yang terjadi beserta denda. Karena kebetulan saya barusan ada acara dan waktu itu saya hanya membawa uang Rp. 10.000 saya coba bertanya prosedur apa saja yang dapat saya lewati untuk menyelesaikan proses penilangan.

Bapaknya menjelaskan pembayaran bisa dilakukan di pengadilan atau di tempat. Nah karena saya ngomong nggak bawa uang, bapaknya kemudian tanya bawa uang berapa ? Ya saya jawab hanya Rp. 10.000 dengan membuka semua isi dompet saya. Lantas bapak tersebut mengatakan tidak cukup dan pembayaran sekitar Rp. 70.000 pikir saya mending saya coba ke ATM sebentar dengan meninggalkan STNK atau SIM. Pada awalnya tidak diperbolehkan karena sudah ditulis dilembar merah dan beberapa saat saya coba tanyakan kembali ┬ámengenai pengambilan uang di ATM ternyata┬ádiperbolehkan ┬átetapi denda berubah menjadi Rp. 100.000. ­čśĽ . Akhirnya saya tanya opsi selanjutnya yaitu transfer bank, untuk transfer bank pembayaran dilakukan di bank BRI yang telah ditunjuk dengan denda maksimal Rp. 500.000. Setelah saya pikir – pikir ah mending ikut sidang saja itung – itung cari pengalaman dan pengen tau proses sidang. Kemudian saya memutuskan untuk meninggalkan┬áSIM yang saya bawa dan digantikan dengan slip berwarna merah.

Sesampainya di rumah saya cek slip berwarna merah tersebut. Di slip tersebut saya dikenai pasal 287 ayat (1) yang isinya setelah saya googling kurang lebih seperti ini :

SETIAP ORANG YANG MENGEMUDIKAN KENDARAAN BERMOTOR DI JALAN YANG MELANGGAR ATURAN PERINTAH ATAU LARANGAN YANG DINYATAKAN DENGAN RAMBU LALU LINTAS SEBAGAIMANA DIMAKSUD DALAM PASAL 106 AYAT (4) HURUF A ATAU MARKA JALAN SEBAGAIMANA DIMAKSUD DALAM PASAL 106 AYAT (4) HURUF B DIPIDANA DENGAN PIDANA KURUNGAN PALING LAMA 2 (DUA) BULAN ATAU DENDA PALING BANYAK RP500.000,00 (LIMA RATUS RIBU RUPIAH).

Entah saya kurang mengerti tentang rambu – rambu atau undang – udang yang berlaku┬áakan tetapi setelah saya cek kembali di lokasi tidak ada rambu – rambu yang melarang untuk putar balik dari lokasi awal saya dan saya sama sekali tidak menginjak marka jalan. Padahal sewajarnya saya dikenai sangsi tidak menyalakan lampu isyarat / sein.


Jalan Ketintang Surabaya

Ya sudahlah pikir saya karena saya juga mungkin salah dan lain kali harus lebih berhati – hati apalagi di daerah yang tidak kita tahu seluk beluknya. Dan untuk sidang akan dilaksanakan hari jum’at tanggal 24┬áApril 2015 pukul 08.00 WIB.

Yuk kawan dari pengalaman saya ini ┬ámari lebih ditingkatkan kedisiplinan dalam berkendara, selain itu patuhi rambu – rambu lalu lintas yang berlaku dan berhenti di traffic light tidak melebihi garis┬ákarena sedikit saja kita teledor dalam berkendara tentunya dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. ­čÖé

 

ilustrasi, source by : mustangcorps.com

Bagikan artikel di :

Tulis Komentar

Komentar