dalam Cerita

Menjadi Orang Yang Dibenci

Kejadian yang tak terkira kadang terjadi begitu saja tanpa sepengetahuan dan sepemikiran saya sebelumnya. Tak khayal ini menjadikan hal yang semula telah direncanakan menjadi berantakan bin amburadul.

Menjadi orang yang terlihat “baik – baik” saja tak selamanya membuat presepsi orang terhadap diri ini selalu positif dan bahkan kadang menjadi sangat negatif. Apa yang dilakukan selalu saja menjadi sorotan bahkan menjadi hal yang katanya nggak seharusnya dilihat oleh mereka.

Abstrak memang, tapi inilah realitasnya hingga akhirnya lambat laun menjadi sebuah label “Orang yang dibenci”

***

Ketika Masih Menjadi Teman

Ya, tulisan ini saya buat ketika saya masih menjadi teman dan sebenarnya sampai saat ini saya menganggapnya juga masih seorang “teman” baik saya. Bukan bermaksud curhat yang terlalu alay atau lebay tapi memang inilah lika – liku kehidupan yang harus dijalani dan ingin saya tuliskan. Memaknai teman bukan hanya sekedar orang yang setiap hari bisa diajak keluar bareng atau bahkan orang yang mau diajak susah bareng. Simplenya teman adalah orang yang mau mengerti keadaan, itu sudah sangat cukup menurut saya. Pada sisi lainnya teman juga yang nantinya akan membantu Anda dan saya jika nantinya terjadi kesulitan membantu disini adalah dalam hal positif bukan negatif ya 😀

Jujur memiliki teman adalah hal yang paling baik dari pada seorang “pacar”. Nggak percaya ?

Memang pertama kali mungkin kita bahkan saya pernah memiliki seorang kekasih, seakan – akan orang lain yang dulu sempat ada dimana kita berada seakan menghilang bukan karena mereka yang tiba – tiba pergi mungkin karena kita sendiri yang mulai menghindar, jarak antara kita dan teman tersebut mulai menghilang ketika kita asyik dengan dunia kita sendiri. Tapi, lagi – lagi ada suatu kejadian yang nggak pernah kita bayangkan sebelumnya yaitu ketika tanpa alasan kita harus berpisah dengan kekasih yang menurut kita sebelumnya adalah teman terbaik kita saat itu. Otomatis, rasa sendiri yang hinggap di dalam dada menjadikan kita harus kembali ke “teman kita yang dulu” sebagai pengisi rasa sepi yang ada sekarang.

Ketika Semakin Menjadi “Teman”

Sulit memang ketika kenyataannya menjadi orang yang dibenci adalah sesuatu yang tidak saya inginkan sama sekali. Dibenci dalam hal ini bukan karena hal yang memang sengaja saya lakukan supaya benar – benar dibenci. Hal – hal yang terlihat kecil akan menjadi sangat besar bagi pembenci tersebut. Rasa nyaman ketika menjadi teman mungkin menjadi terlupakan dimana letak batasan – batasan yang harus diperhatikan malah dihiraukan. Tidak masalah sebenarnya ketika semua yang dilakukan tidak merugikan kedua belah pihak.

Dan akhirnya di blokir

Hal terbaik dalam menyelesaikan setiap masalah adalah dengan tidak lari dari kenyataan. Ya seharunya baik itu ketika saya dan Anda diposisi benar atau salah mungkin meminta maaf adalah awal yang baik. Berat memang akan tetapi kata maaf juga menjadi sangat berarti ketika keduanya saling mengerti arti dari maaf tersebut. Memblokir kontak, media sosial dan lain – lain bukanlah hal yang paling baik bahkan akan semakin memperkeruh masalah. Ketika Anda dan saya memutuskan untuk memblokir seseorang, seketika itu juga Anda dan saya menetapkan untuk berhenti berhubungan dengan orang tersebut. Bayangkan, ketika dulu seseorang itu pernah sangat dekat dengan kita dan tiba – tiba pergi hanya karena masalah sepele ditambah menutup diri dengan kita. Ya, rasa bersalah pasti akan tetap ada. Kembali lagi siapa yang rela mengalah demi kebaikan bersama.

Bertemanlah yang baik dan menjadi teman yang mau bertoleransi tanpa harus diminta. Semua masalah pasti ada penyelesaiannya dan itu semua tergantung bagaimana kita menyikapinya 🙂

Bagikan artikel di :

Tulis Komentar

Komentar