dalam Cerita, Ngeblog

Nggak terasa ya sepertinya baru kemarin aku posting tentang ucapan hari raya idulfitri di artikelku Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436 H dan tentu sudah genap juga blogku berumur lebih dari satu tahun 😀 Jika dibandingkan dengan blogger idolaku mas Donny Verdian, mbak Pungki Prayitno, Gus Mul maupun mbak Arina Rizkia yang menceritakan kehidupan seru di Jepang! masih sangat jauh sekali sepertinya. hehe Bagaimanapun juga terima kasih untuk pembaca setia blogku ini yang telah meluangkan waktunya untuk berkunjung kesini 🙂

Singkat cerita setelah tahun kemarin aku sekeluarga tidak dapat melaksanakan tradisi mudik lebaran dikarenakan terdapat suatu kendala, tahun ini akhirnya kami sekeluarga dapat mudik ke kampung halaman yaitu di Kabupaten Trenggalek. Seperti mudik lebaran di tahun sebelum-sebelumnya kami sekeluarga berangkat mengendarai mobil dengan menempuh perjalanan dari Surabaya ke Trenggalek sekitar lima jam. Kami berangkat pada H-1 lebaran yaitu pada hari Selasa (05/07/2016), untungnya karena kami berangkat setelah subuh jalanan menuju Trenggalek belum dipenuhi para pemudik sehingga kami dapat lebih santai diperjalanan.

Lebaran

Setelah menempuh perjalanan lebih dari lima jam, sekitar pukul 10.30 kami akhirnya sampai di Trenggalek. Lebaran di Trenggalek dilaksanakan pada hari Rabu (06/07/2016) yang notabene hampir semua masyarakat melaksanakan lebaran di hari itu juga. Seperti biasanya ketika lebaran tiba kami sekeluarga membeli Ayam Lodho. Ayam Lodho merupakan makanan Khas Trenggalek, sayangnya foto dari Ayam Lodho tersebut telah aku hapus sehingga tidak sempat ku masukkan ke dalam artikel ini 🙁 .

Sekilas tentang Ayam Lodho, Ayam Lodho merupakan masakan berbahan utama Ayam Kampung yang diolah dengan resep rahasia Khas Trenggalek! Kenapa rahasia ? Soalnya aku tidak tahu pasti resep didalamnya apa 😀 Yang pasti jika kamu berkunjung ke Trenggalek jangan lupa beli Ayam Lodho. Oh ya, di Trenggalek terdapat satu kampung yang warganya menjual Ayam Lodho dan aku biasa membeli disana namanya Kelurahan/Desa Kerjo. Harganya pun cukup terjangkau untuk satu ekor Ayam Lodho berharga Rp65.000,00 lengkap dengan kuahnya. Mantab deh!.

Wifie Bersama Keluarga

Wifie Bersama Keluarga

Seperti biasanya di hari raya idulfitri kami berkunjung kerumah saudara-saudara terdekat. Sayangnya kegiatan kunjung-kunjung tersebut hanya dilaksanakan setengah hari dikarenakan pada siang harinya kami harus menuju ke Madiun. Walapun begitu kembali ke kota kelahiran merupakan hal yang sangat istimewa! Oh ya selain Ayam Lodho beberapa keluargaku juga memasak Soto Ayam untuk disajikan kepada para tamu yang datang ke rumah.

Liburan ?

Setelah kegiatan kunjung-kunjung selesai siangnya kami meluncur ke Madiun untuk bertemu dengan saudara yang ada disana. Selain itu kami juga berencana untuk liburan selama beberapa hari di Yogyakarta. Perjalanan dari Trenggalek ke Madiun memakan waktu sekitar dua jam. Walaupun pernah beberapa kali kami kesana, akan tetapi tetap saja kami tidak hafal jalan menuju ke Madiun. Untungnya pada saat itu aku menginstall aplikasi Waze. Waze merupakan aplikasi serupa dengan Google Maps yang dapat digunakan sebagai penunjuk arah selain itu pada Waze juga terdapat informasi seperti kemacetan, kecelakaan, dan informasi lainnya terkait kondisi jalan yang disampaikan langsung oleh pengguna Waze lainnya. Berbekal Waze kami dapat sampai di Madiun dengan selamat dan tidak tersesat sama sekali 😀

Pertama Kali Ke Candi Borobudur

Setelah di Madiun selama beberapa jam dan bertemu dengan saudara yang disana. Aku dan kedua orang tuaku bersama beberapa saudaraku melanjutkan perjalanan (liburan). Ya, kami menuju ke Magelang untuk bertemu kakungku yang tinggal disana. Kami menginap di Magelang selama satu malam. Kemudian paginya kami melanjutkan perjalanan ke Candi Borobudur.

Foto Bersama di Rumah Kakung Magelang

Foto Bersama di Rumah Kakung Magelang

Sebenarnya sudah sangat lama aku mengetahui tentang Candi Borobudur, ya hanya sekedar tahu dan sama sekali belum pernah kesana. Maklum sedari dulu ketika ada acara rekreasi aku tidak pernah turut serta, selalu saja ada halangan entah ikut lomba maupun acara keluarga sampai dengan tidak ada modal untuk berangkat (hehe). Beruntung sekali di libur lebaran tahun ini aku dapat berkunjung kesana bersama keluargaku.

Gapura Menuju Candi Borobudur

Gapura Menuju Candi Borobudur

Jarak antara Candi Borobudur dengan rumah kakungku cukup dekat hanya sekitar 45 menit perjalanan ditempuh dengan mobil. Karena pertama kali berkunjung kesana aku seolah tidak ingin kehilangan momen yang menarik ini sempat beberapa kali aku mengambil gambar dari mulai perjalanan ke candi hingga sampai ditempat tujuan.

Loket Wisatawan Domestik Candi Borobudur

Loket Wisatawan Domestik Candi Borobudur

Untuk ke Candi Borobudur sendiri biaya yang dikeluarkan tidaklah terlalu mahal. Untuk parkir satu buah mobil tarif yang dikenakan sebesar Rp10.000,00. Sedangkan untuk masuk ke area Candi Borobudur dikenakan tarif Rp30.000,00 untuk orang dewasa Rp15.000,00 untuk anak-anak. Oh ya, selain itu terdapat loket khusus wisatawan mancanegara letaknya berada disebrang loket wisatawan domestik.

Persewaan Sepeda Candi Borobudur

Persewaan Sepeda Candi Borobudur

Untuk menuju lokasi candi kami menaiki kereta yang telah disediakan oleh pihak pengelola Candi Borobudur. Untuk dapat menaiki kereta tersebut, pengunjung diharuskan membeli tiket. Selain menggunakan kereta pengunjung juga dapat menuju lokasi candi dengan menaiki sepeda dengan tarif Rp10.000,00 maupun dengan delman. Bagi pengunjung yang ingin berjalan kaki sambil menikmati suasana sekitar dan berfoto ria mungkin bisa jadi opsi pilihan yang pas. Oh ya, jangan lupa pakai topi ya. Pasalnya waktu aku kesana matahari sedikit menyengat akan tetapi anginnya beehh dingin dan sepoi-sepoi. Nggak bawa topi ? Tenang saja diparkiran mobil terdapat beberapa penjual topi keliling. Jadi nggak perlu takut kepanasan lagi.

Candi Borobudur

Candi Borobudur

Perjalanan menggunakan kereta memakan waku sekitar tujuh menit untuk sampai ke lokasi candi. Dari depan lokasi candi kamu dapat berfoto ria disana. Oh ya, Candi Borobudur ini bertingkat-tingkat jadi kamu harus naik ke atas untuk menikmati candi dan pemandangan indah disekitarnya. Aku pernah mendengar bahwa jika pengunjung dapat memegang patung yang ada di dalam stupa makan keinginannya dapat terpenuhi. Belum sempat mencoba ternyata terdapat larangan untuk memegang patung yang berada didalam stupa. Benar saja ketika ada orang yang berusaha meraih patung tersebut dengan sigap petugas langsung mengingatkan untuk tidak melakukannya. Mungkin hal ini dilakukan untuk menjauhkan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Patuhi peraturanya yo rek!

Candi Prambanan

Setelah menyusuri Candi Borobudur dan membeli beberapa oleh-oleh dan beberapa gelas dawet berikutnya kami melanjutkan perjalanan menuju wates untuk nyekar ke makam mbah buyut ku. Perjalanan dari Magelang ke Wates lumayan lama karena mungkin jaraknya cukup jauh, ya?

Setelah dari Wates kami memiliki rencana untuk ke Tawangmangu tepatnya ke Air Terjun Grojogan Sewu dan menginap di Villa dekat sana. Akan tetapi cuaca yang tidak mendukung saat ditengah perjalanan kami mengurungkan niat tersebut. Kebetulan arah ke Tawangmangu searah dengan ke Candi Prambanan. Pada saat hampir melintasi Candi Prambanan ternyata cuaca disekitar sana cenderung cerah tanpa awan sedikit pun. Akhirnya kami memutuskan untuk singgah ke Candi Prambanan.

Parkir Masuk Candi Prambanan

Parkir Masuk Candi Prambanan

Sekilas antara Candi Borobudur dan Candi Prambanan hampir sama. Untuk parkir Candi Prambanan sendiri mematok harga sekitar Rp15.000,00 per mobil. Untuk tiket masuk pun sama dengan Candi Borobudur terdapat dua loket tiket yaitu untuk wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara.

Untuk menuju lokasi candi pun cukup dekat oleh karenanya kami tidak perlu menaiki kereta lagi. Seperti biasa terdapat ritual yang harus dilakukan yaitu berfoto ria bersama keluarga. Jika sebelumnya di Candi Borobudur kami berfoto bersama sebelum pulang, di Candi Prambanan ini kami berfoto ria setelah sampai disana! haha

Candi Prambanan

Candi Prambanan

Oh ya di Candi Prambanan aku dan Arie menyempatkan diri berfoto denga bule. Sebetulnya niat tersebut sudah ada sejak kami di Candi Borobudur. Akan tetapi nyali kami yang ciut menjadikan hal tersebut hanya sekedar wacana. Dalam perjalanan pulang keluar dari lokasi candi kami bertemu dengan dua orang bule cewek dari Jerman. Langsung saja dengan sigap kami ajak berfoto bersama.

“Would you take some pictures with us ?” (Entah bener atau salah yang penting ngajakin foto)

“Yes, sure.”

“Where do you come from ?”

“From Germany”

“Can you speak Indonesian ?” (Aku tanya apakah mereka bisa Bahasa Indonesia)

“Ya aku bisa” 

“Terima kasih banyak” (Ucapku setelah kami selesai berfoto ria)

“Sami – sami ”  (Bahasa Jawa : Sama – sama)

Percakapan singkat tapi cukup buatku meneteskan beberapa liter keringat dingin. Wajar saja ini pertama kaliku bicara langsung dengan orang bule dan menerapkan pelajaran Bahasa Inggrisku! Maklum sebelum-sebelumnya aku hanya berbicara bahasa inggris via keyboard hehe

Berfoto dengan Mbak - Mbak Bule dari Germany

Berfoto dengan Mbak – Mbak Bule dari Germany

Yang cukup membuatku kaget adalah mbak-mbak bule ini bisa berbahasa Indonesia dan Jawa. Hal tersebut yang sedikit menghilangkan rasa deg-degan yang sebelumnya muncul saat mengajak foto bersama. Selain itu rasanya bangga aja bahwa orang luar pun bisa bahasaku, Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa.

Setelah puas berkeliling Candi Prambanan kami memutuskan untuk mencari penginapan. Rencana awal yaitu ke Tawangmangu yang kami urungkan diganti dengan ke Jogja. Akan tetapi di hari libur lebaran pastinya jalan-jalan di Jogja dan beberapa penginapan penuh dan takutnya kami tidak dapat tempat menginap sampai akhirnya kami memutuskan untuk menginap di Solo.

Kami sampai Solo sekitar jam 19.00 WIB kemudian berkeliling mencari hotel. Beberapa hotel yang kami singgahi banyak yang full sehingga terpaksa kami mencari hotel lainnya. Akhirnya kami menemukan hotel yang lumayan bagus, namanya Lampion Hotel. Lampion Hotel merupakan hotel berbintang 2 yang terletak di Solo, Jawa Tengah. Menurutku walaupun hotel ini tergolong bintang 2, fasilitas yang ditawarkan cukup memuaskan.

Lampion Hotel Solo

Lampion Hotel Solo

Kami menyewa tiga kamar dengan twin bed yaitu dua kasur dalam satu kamar. Kamarnya pun cukup memuaskan dengan fasilitas wifi yang dapat diakses oleh pengunjung hotel. Kamar mandi yang ada di dalam kamar juga cukup memuaskan seperti hotel biasanya di dalam kamar mandi terdapat pilihan air hangat atau air biasa, closed, dan wastafel. Sarapan yang disajikan pun mantab dan tentunya sistem prasmanan. Oh ya kalau tidak salah untuk masing-masing kamar yang kami pesan diberikan dua tiket atau kupon untuk sarapan pagi. Jadi jika tiket tersebut kurang terutama untuk penghuni diatas tujuh tahun maka pengunjung harus membayar sebesar Rp25.000,00 dan tenang saja setelah bayar kamu bisa makan sekenyangnya.

Air Terjun Tawangmangu (Grojogan Sewu)

Loket Air Terjun Grojogan Sewu

Loket Air Terjun Grojogan Sewu

Setelah kami menginap selama semalam di Lampion Hotel dan paginya kami sarapan disana sekaligus checkout. Tujuan kami selanjutnya yaitu ke Air Terjun Tawangmangu (Grojogan Sewu). Dari yang aku lihat di Waze perjalanan dari tempatku menginap sampai dengan Grojogan Sewu lumayan dekat. Yang menjadikan lumayan lama sampai ditujuan adalah medan yang naik turun gunung dan jalanan yang lumayan ramai. Wajar saja mungkin orang-orang juga sedang berlibur sama dengan aku.

Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam. Akhirnya kami sampai di Tawangmangu. Sama dengan dua obyek wisata yang kami kunjungi sebelumnya. Di Tawangmangu juga terdapat dua loket untuk wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara. Dari segi harga memang antara wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara terpaut lumayan jauh. Untuk wisatawan domestik tiket untuk masuk ke Air Terjun Grojogan Sewu sebesar Rp17.000,00 sedangkan untuk wisatawan mancanegara tiket masuknya sebesar Rp160.000,00.

Kolam Renang Air Terjun Grojogan Sewu

Kolam Renang Air Terjun Grojogan Sewu

Oh ya di Wisata Air Terjun Grojogan Sewu di Tawangmangu ini selain kita bisa menikmati air terjun dan kolam renang, kita juga dapat berfoto dengan beberapa monyet liar yang berada disana.

Ayah, Mama, dan Tiara Berjuang Melalui Anak Tangga

Ayah, Mama, dan Tiara Berjuang Melalui Anak Tangga

Perjalanan menuju lokasi air terjun dilalui dengan menyusuri beberapa ribu anak tangga. Jadi bagi kamu yang ingin ke Tawangmangu jangan lupa bawa bekal minum, kamu juga dapat membelinya sebelum pintu masuk ke lokasi air terjun.

Air Terjun Grojogan Sewu

Air Terjun Grojogan Sewu

Perjalanan yang dilalui dengan menempuh ratusan anak tangga tersebut ternyata berbuah manis. Setelah menuruni anak tangga pengunjung dapat langsung melihat Air Terjun Grojogan Sewu. Karena pada saat itu musim liburan, pengunjung yang berada disana sangatlah banyak. Oh ya, bagi kamu yang bermain di Air Terjun Grojogan Sewu, tedapat himbauan didekat air terjun untuk tidak terlalu dekat dengan lokasi jatuhnya air. Selain itu terkadang jika musim hujan dapat terjadi banjir.

Keceriaan Bermain Air di Grojogan Sewu

Keceriaan Bermain Air di Grojogan Sewu

Selain berfoto ria, pengunjung dapat bermain air di sepanjang sungai Grojogan sewu. Airnya cukup dingin dan sempat membuat kakiku kram mungkin karena jarang olahraga. Di lokasi air terjun juga terdapat penjual makanan dan minuman salah satu yang menarik adalah penjual sate. Yang lebih mengesankan lagi adalah sate yang dijual menurutku sangatlah enak! Kamu wajib coba bro sist!

1250 Anak Tangga Telaga Sarangan

1250 Anak Tangga Telaga Sarangan

Untuk kembali ke lokasi parkiran, pengunjung juga harus melalui beberapa ratusan anak tangga. Bedanya untuk menuju lokasi air terjun tangga lebih dominan turun, sedangkan untuk kembali ke lokasi parkiran tangga cenderung naik. Oh ya, ada yang menarik nih ketika kamu menaiki anak tangga, yaitu tulisan bahwa kamu sudah melalui sekitar 1.250 anak tangga! Seketika rasa lelah sepertinya sedikit hilang melihat tulisan tersebut.

Telaga Sarangan

Setelah selesai menyusuri Air Terjun Grojogan Sewu. Perjalanan kami berlanjut ke telaga sarangan. Seperti biasa kami memperhitungkan jarak dengan menggunakan Waze. Dari pantuan Waze terlihat keadaan jalan relatif ramai lancar selain itu jaraknya pun tidak terlalu jauh. Ya memang jarak antara Tawangmangu dan Sarangan tidak terlalu jauh. Akhirnya kami langsung meluncur ke Satangan!

Sampai ditengah jalan ternyata mobil yang aku naiki (kami membawa 2 mobil) mengalami kendala yaitu susah untuk menanjak. Kemungkinan medan yang naik turun dan faktor tidak terbiasa menjadikan mobil cepat panas. Akhirnya kami putuskan untuk berhenti mendinginkan mobil dan menyantap beberapa makanan di pinggir jalan.

Perjalananpun berlanjut, memasuki area Telaga Sarangan ternyata jalanan tetap naik turun dan kondisi jalan sangatlah padat. Kopling dari mobil yang ku naiki mulai berbau gosong maklum saja mobil harus diseimbangakan dengan kopling saat menaiki dan menuruni tanjakan. Rencana awal kami untuk kembali ke Surabaya sebelum malam tiba ternyata harus ditunda. Kami memutuskan untuk putar balik dan menyewa sebuah villa yang jaraknya relatif dekat dengan Telaga Sarangan.

Villa di Telaga Sarangan

Villa di Telaga Sarangan

Sekilas kalau aku tidak salah nama villanya adalah villa chrisna berada disebelah kanan jalan di jalan putaran pertama menuju telaga sarangan. Fasilitas yang disajikan seperti rumah pada umumnya, kamar mandi berada di luar kamar dan terdapat tiga kamar dan satu ruang tamu.

Jalan Kaki Menuju Telaga Sarangan

Jalan Kaki Menuju Telaga Sarangan

Setelah beristirahat beberapa saat dan membersihkan diri, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Telaga Sarangan. Jaraknya sih lumayan, tapi karena udara yang dingin dan jalanan yang padat menjadikan hiburan tersendiri saat lelah menghampiri. Di Telaga Sarangan aku sempat mencoba menaiki kuda untuk pertama kali! Tarif untuk satu putaran penuh yaitu Rp60.000,00. Pengunjung dapat menaiki kuda sendiri setelah mendapat pengarahan dari si penjaga kuda. Selain menaiki kuda aku juga mereasakan sensasi speed boat yang berada di telaga. Benar saja, kecepatan yang dipacu sempat membuat adrenalinku naik!

Telaga Sarangan

Telaga Sarangan

Ada kejadian menarik ketika aku telah selesai menaiki speed boat tersebut. Yaitu sepasang kakek dan nenek yang menaiki speed boat tersebut. Tentunya kami sempat khawatir dengan kejadian tersebut, apalagi jika dilihat si kakek dan nenek tersebut lumayan lanjut usia. Setelah kakek dan nenek selesai menaiki speed boat sempat mama dan kakungku berinteraksi dengan si kakek.

Mama Berinteraksi dengan Si Kakek

Mama Berinteraksi dengan Si Kakek

“Yuswone njenengan pinten mbah ?” (Umurnya berapa kek ?)  Tanya mama dan sepertinya si kakek kurang paham dengan Bahasa Krama Inggil yang mama ucapkan.

“Umur e pinten mbah ?” Ulang mama menanyakan umur si kakek.

“Umurku 78 nduk” (Umurku 78 tahun mbak) Jawab si kakek.

“Njenengan kok wantun mbah numpak prahu niko ?” (Kakek kok berani naik perahu itu ?) Tanya mama.

“Yo wanilah nduk, adoh-adoh mrene mosok ora nyapo-nyapo. Eman!” (Ya beranilah mbak, jauh-jauh kesini masak nggak ngapa-ngapain. Rugi!) Jawab si kakek dengan senyum gembira.

Benar juga apa yang dikatakan si kakek! Percuma jauh-jauh liburan kalau hanya melihat-lihat saja tanpa melakukan apapun! Bagaimanapun juga aku salut dengan si kakek dan nenek tersebut, di usianya yang sudah tua masih saja berani menaiki speed boat.

Setelah menginap selama semalam di villa sekitar Telaga Sarangan besoknya kami pulang menuju Surabaya. Libur lebaran kali ini sungguh sangat menarik! Beberapa destinasi bahkan tidak masuk ke dalam rencana kami dan datang tiba-tiba namun tetap asik apalagi banyak hal baru yang aku dapat. Sumpah, nggak nyesel!

Semoga libur-libur mendatang juga lebih asik lagi dan lebih menarik! Semoga!

 

Bagikan artikel di :

Tulis Komentar

0 Komentar

Webmentions